| Dari Jogya ke Chicago |
|
|
|
|
Mas Gambit, nama panggilannya. Lengkapnya Mas Ignatius Praptorahardjo. Lulus Sarjana Administrasi Negara dari UGM, dan Magister Sosiologi juga dari UGM. Pernah nyambi mengajar di Universitas Atmajaya Jogya. Dan salah satu Pendiri LSM Kuncung Bawuk yang bekerja dalam masalah anak dan juga LSM Kembang di Jogya. Orangnya ramah. Sekali ketemu tak akan lupa, rambutnya gondrong, senyumnya sumeleh dengan badan yang agak subur. Di kalangan aktivis harm reduction di Indonesia dan Asia Tenggara, mas dikenal Gambit dikenal sebagai fasilitator yang andal. Berikut kisah Mas Gambit Ignatius Praptorahardjo yang sedang menuntut ilmu di Chicago untuk mencapai PhD dengan beasiswa Fogarty-UIC. -------------------------------------- Saat ini saya sedang sekolah pada tahun kedua di jurusan Health Policy and Administration, School of Public Health, University of Illinois at Chicago. Saya memperoleh beasiswa dari UIC-AITRP (Fogarty - UIC) mulai semester Fall tahun 2006.
Sebelum ini saya bekerja sebagai buruh di Program Aksi Stop AIDS - Family Health International Jakarta pada bagian harm reduction.
Di sela-sela kesibukan di FHI, saya juga membesarkan Yayasan Kembang di Yogyakarta yang bekerja untuk isu-isu harm reduction dan buruh migran. Dengan latar belakang yang tidak ‘ngakademis’ ini, saya lumayan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan situasi yang ‘sangat akademis’di sekolah ini.
Saya kadang berpikir, apakah saya mampu sekolah di sini? Ini yang membuat rasanya mau putus asa, apalagi satu-satunya kegiatan hanya belajar dan belajar, tidak bisa nyambi kerja. Andaikata bisa, lumayan lah bisa jadi pelarian. Tetapi karena sudah kepalang basah, ya sebisa-bisanya dilanjutkanlah perjalanan ini, meski tertatih tatih dan bekerja keras.
Bayangkan ketika seseorang ibu hamil yang tidak memiliki penghasilan (atau pasangannya berpenghasilan rendah), dia bisa memperoleh layanan kesehatan mulai kontrol rutin kehamilannya sampai dengan rawat inap gratis beserta obat-obatannya. Setelah anaknya lahir, si anak akan langsung dapat asuransi dan dapat support makanan gratis selama 5 tahun.
Bagi saya ini menarik karena dalam konteks layanan kesehatan yang sangat mahal di sini, ternyata ada ruang bagi orang-orang miskin untuk tetap bisa menikmati layanan kesehatan yang standar. Meski terus menjadi sumber kritik orang-orang konservatif, socialized medicine ini bisa jadi sisi lain dari garangnya kapitalisme di sini. Saya jadi teringat dengan Askeskin, seberapa jauh ini sudah bisa dinikmati oleh orang-orang miskin di negara kita ya?
Ini perlu jadi pertimbangan karena stipend yang kita terima belum tentu bisa mencukupi untuk membayar asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh univeristas atau perusahaan asuransi lain (berdasarkan stipend yang diterima, kita tergolong kategori dalam batas miskin – kurang lebih $ 20,000 per tahun).
Atau kalau pengin mempunyai anak di sini, tidak perlu khawatir dengan biaya untuk pemeriksaan kesehatan selama proses kehamilan. Demikian juga, kalau mau ngurus, bisa memungkinkan memperoleh subsidi untuk susu, telur, roti atau cereal bagi anak-anak kita asal umurnya kurang dari 5 tahun.
Semoga info ini bisa membantu teman-teman yang ingin datang ke Chicago atau ke Illinois. |
The AIDS International Training and Research Program (AITRP) began in 1988 as one of the first of a new generation of research training programs sponsored by the Fogarty International Center (FIC) at the National Institutes of Health (NIH). These programs provide training for scientists from institutions in low- and middle-income countries to strengthen HIV-related research and public health capacities at their institutions.





