Fogarty Brown UniversityFogarty UCLA
Fogarty UIC

Search

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

Pengalaman Dapat UIC-Fogarty Fellowship 2007 PDF Print E-mail

agungAgung Waluyo adalah pengajar pada Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia di Depok, pada mata ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan HIV/AIDS dan pembimbing klinik di RSCM sejak tahun 1994. Pernah meneliti tentang masalah “Stigma pada klien HIV/AIDS & Perawatan klien HIV/AIDS”. (2003 – 2007). Juga pernah menjadi konsultan nasional untuk WHO Indonesia, di Jakarta pada area Keperawatan & Kebidanan (2006 – 2007).

Berikut pengalaman Agung mendapat beasiswa Fogarty-University of Illinois at Chicago untuk program Doktor.

Seperti diketahui bahwa Fogarty Fellowship untuk melanjutkan pendidikan  Master of Science, PhD maupun short-course, terbuka bagi kaum muda Indonesia di University of California at Los Angeles, University of Illinois at Chicago, dan Brown University.

 


Perjalanan saya mendapatkan beasiswa PhD di College of Nursing UIC cukup panjang. Berawal dari dosen senior FIK-UI (Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia) melakukan program Post-doc HIV/AIDS di UIC pada tahun 2002. Program kegiatan senior saya tersebut memberikan dampak positif pada pengembangan staf fakultas, dimana FIK mendapatkan dana stimulant untuk melakukan kegiatan penelitian, pelatihan HIV/AIDS bagi perawat dan pengabdian masyarakat.

 

Saat terlibat dengan kegiatan penelitian, pelatihan dan pengabdian masyarakat itulah, pertama kali saya kenal dengan UIC-AITRP. Pada saat AITRP melaksanakan workshop Integrated Approach for HIV/AIDS Prevention among IDUs, di Jakarta, pada bulan Agustus 2003, saya diundang untuk mengikuti workshop tersebut. Saya berkesempatan bertemu dengan direktur Fogarty UIC-AITRP, Dr. Judith Levy. Saat itu saya menggali informasi tentang peluang untuk mendapatkan bantuan dana untuk kegiatan lanjutan penelitian HIV/AIDS maupun kesempatan mendapatkan beasiswa S3. Dari pertemuan tersebut, tidak ada informasi yang terlalu istimewa yang saya dapatkan. Beliau hanya menyampaikan untuk saat itu UIC-AITRP tidak memiliki dana untuk memberikan beasiswa S3.

 

Pertemuan kedua dengan Dr. Judith Levy di tahun 2004 pada acara International AIDS Conference di Bangkok pun tidak menghasilkan jawaban yang menggembirakan. Saat itu saya dating untuk berpartisipasi pada “Poster Presentation” bersama peneliti dari UIC-College of Nursing. Setelah berselang satu tahun, pertengahan tahun 2005, saat saya dan senior membuat laporan kegiatan pelatihan HIV bagi perawat, saya mencoba lagi menanyakan kemungkinan peluang beasiswa S3 tersebut. Kali ini jawaban yang saya dapatkan cukup melegakan. Beliau mengatakan, saya diminta untuk apply ke UIC College of Nursing dengan sederet persyaratannya. Mulai dari TOEFL, GRE, Ijasah S1, S2 dan persyaratan-persyaratan lain yang ada di website UIC, Graduate Admission. Satu hal yang beliau (Dr. Levy) garis bawahi adalah, walaupun saya sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk TOEFL, GRE, admission fee dan lain-lain, hal itu tidak menjamin saya akan menjadi penerima beasiswa PhD dari UIC-AITRP.

 
Walaupun saya pernah mengikuti test TOEFL untuk prasyarat beasiswa S2 di Liverpool John Moores University, pada tahun 1998, saya harus berupaya keras untuk  dapat me-“recall” kembali pengetahuan “lawas” tersebut. Akhir tahun 2005, saya berhasil melengkapi semua persyaratan. Enam bulan berselang saya diwawancara, tepatnya di pertengahan tahun 2006. Dan Alhamdulillah, letter of acceptance saya terima pada bulan Februari 2007 untuk dapat memulai perkuliahan pada Fall semester 2007.


Bulan Agustus 2007 saya tiba di Chicago dengan perasaan antara tidak percaya, senang bercampur sedih. Perasaan tidak percaya karena tidak pernah saya bayangkan, bahkan saya impikan untuk bisa sampai ke negeri paman Sam. Senang karena telah sampai dengan selamat, sedih karena saya harus meninggalkan istri dan kedua buah hati saya. Perasaan sepi dan sendiri ini sebenarnya sudah saya bayangkan jauh-jauh hari sebelum “letter acceptance” saya terima.

 

 

Seiring dengan berjalannya waktu dan menumpuknya weekly assignment, membuat saya sejenak dapat melupakan rindu yang luar biasa pada keluarga dan tanah air. Dinginnya salju Chicago kadang membuat kerinduan itu muncul kembali. Tapi saya mencoba untuk menikmatinya, seperti yang tampak pada foto. Sebagai mahasiswa PhD pada disiplin ilmu Keperawatan, membuat saya menjadi “primadono” atau mahasiswa pria satu-satunya dikelas.

 

Banyak teman sesama pelajar dari Indonesia menyarankan saya untuk membawa keluarga, namun tidak sedikit mahasiswa “lokal” yang tidak menyarankan saya membawa keluarga. Dengan berbagai pertimbangan, terutama kondisi finansial yang tidak memungkinkan dan proses adaptasi keluarga yang cukup berat di perantauan, membuat kami (sementara ini) mengambil keputusan untuk tidak mengikut-sertakan istri dan kedua anak saya menemani studi saya di Chicago. Sebagai gantinya (jika kondisi keuangan memungkinkan), saya akan pulang ke Indonesia setiap libur semester. Dan winter break Desember 2007 kemarin saya pulang kampung selama sebulan untuk melepaskan kerinduan pada keluarga saya.

 

 Semester Spring 2008 ini, saya bukanlah satu-satunya mahasiswa pria di kelas. Kebetulan mata kuliah “Measurement in Health Research” ini juga diikuti oleh mahasiswa program doktoral dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Pada mata kuliah ini pula saya mendapatkan quiz setiap minggunya, ditambah dengan mid-term dan final examination. Cukup berat memang, belum lagi beban 3 mata kuliah lain yang harus saya ambil padas semester ini. Namun, semua ini harus saya jalani dengan sungguh-sungguh, karena saya percaya bahwa keberhasilan tidak akan pernah diraih tanpa usaha maksimal dan doa yang menyertainya. Semoga semester ini bisa saya lalui dengan baik, dengan hasil yang memuaskan.

 

 

The AIDS International Training and Research Program (AITRP) began in 1988 as one of the first of a new generation of research training programs sponsored by the Fogarty International Center (FIC) at the National Institutes of Health (NIH). These programs provide training for scientists from institutions in low- and middle-income countries to strengthen HIV-related research and public health capacities at their institutions.