Fogarty Brown UniversityFogarty UCLA
Fogarty UIC

Search

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

Pengalaman Fogarty UCLA 2007 PDF Print E-mail

 vely
Veli Sunggono adalah salah satu dari 2 orang UCLA-Fogarty tahun 2007. Ini cerita singkat dari anak muda bergelar SKM lulusan FKMUI dan pernah bekerja dalam riset bidang Hepatitis, HIV dan Kanker.

 

Berawal dari keterlambatan saya masuk kuliah. Saya mulai join kelas di UCLA tanggal 8 Oktober, padahal sebenarnya kuliah sudah dimulai dari 2 minggu yang lalu. Pertama kali waktu saya masuk, saya sudah ketinggalan kuliah dan masa orientasi kampus, makanya saya sering nyasar di UCLA, dan tidak tahu bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ada, seperti fotocopy, scan gambar, meminjam laptop di perpustakaan.

Pertama kali masuk kelas, saya agak kaget karena saya sulit menangkap isi kuliahnya, bahasa Inggris mereka cepat sekali. Seringkali saya harus benar-benar memasang telinga kalau  mereka bicara, apalagi saat mereka berbicara dengan cepat. Akan tetapi setelah 2 bulan ini, saya sudah mulai terbiasa dan dapat menangkap dengan cepat isi pembicaraan orang-orang di Los Angeles.
 

Hari pertama, saya diinterogasi di bandara LAX, sekitar 45 menit, ditanya macam-macam, ulang tahun orang tua saya, alamat mereka, dan banyak pertanyaan detail lainnya. Waktu mereka tahu bahwa saya pertama kali ke Amerika, saya disuruh masuk ke ruang khusus untuk diwawancara lebih lanjut. Saya agak kurang mengerti, mengapa mereka harus menginterview saya secara khusus, padahal surat-surat sudah lengkap. Saya keluar paling terakhir dari sana. Akhirnya saya tahu dari cerita teman-teman bahwa biasanya orang yang pertama kali ke Amerika, khususnya Pria berusia produktif, biasanya diinterogasi, untuk memastikan bahwa mereka ke Amerika bukan untuk kerja di sana. Akhirnya saya sampai ke Hotel dekat UCLA, saya berencana untuk istirahat sebentar, tetapi akhirnya ketiduran, sampai sore, jadi lupa makan siang. Malamnya saya telpon dengan teman-teman orang Indo, mereka ngajak saya makan malam di Curry House, masakan Curry Jepang. Saya agak sedikit kaget, wah mahal sekali ya, makan malam di sini, saya bayar 12 USD, plus Tax and tips. Wah ini bukan cuma culture shock tapi money shock…He he he….Malamnya saya langsung tidur, karena kepala agak pusing, akibat jetleg.

Besokannya hari Senin, saya dijemput oleh sekretaris dari Fogarty UCLA, pihak yang memberikan beasiswa. Saya beserta teman saya, Tasia dari Indonesia diajak untuk membuat student card, dan dikenalkan tempat-tempat yang sering mahasiswa kunjungi. Kita dikasih laptop, printer, dan check untuk membeli textbook. Saya sempat nyasar waktu pulang, untung bawa peta, jadi akhirnya bisa pulang juga, setelah berputar-putar 1 jam di dalam kampus dan di luar kampus.

 

 Saya diberi kesempatan untuk tinggal di Hotel selama 4 hari setelah itu saya harus check out. Awalnya saya berpikir bahwa adalah mudah untuk mencari tempat tinggal di LA. Ternyata waktu saya mulai nyari informasi dari internet, saya butuh hampir sebulan, akhirnya saya mendapatkan tempat tinggal yang sekarang ini, apartement dekat UCLA. Saya minta diperpanjang agar diperbolehkan tinggal di hotel sampai 2 minggu. Rasanya bosan sekali tinggal di Hotel, tidak teman ngobrol, dan tidak bisa masak. Teman saya sudah pindah ke apartement, sharing dengan kakak kelas saya. Akhirnya saya dicarikan oleh teman saya tempat kos milik orang Indo, tapi saya hanya bisa tinggal 10 hari. Ada sekitar 10 orang tinggal di sana, akan tetapi saya hanya kebagian tinggal di living room. Saya tinggal di ruang tamu yang ditutup dengan sekat dan tirai dari kain. Lumayan terasa sih, kalau malam menjelang pagi, saya bisa bangun dan agak mengigil karena kedinginan, apalagi ditambah dengan kondisi badan saya yang agak kurus, maklum cadangan lemak saya gak banyak. Di tempat ini, kalau ingin ke UCLA, harus berjalan kaki sekitar 25 menit ke jalur bus, kemudian naik bus sekitar 30 menit. Begitu juga dengan pulangnya, jadi setiap hari saya harus menghabiskan waktu 2 jam untuk perjalanan. Lumayan terasa cape, betis kaki jadi agak membesar. Semua yang tinggal di tempat kos ini punya mobil, dan memang jalur bus yang searah tidak terlalu banyak.  

Tiga minggu kemudian, saya sudah harus menghadapi ujian Mid yang pertama. Saya merasa agak stress karena tempat tinggal yang baru belum dapat, sedangkan saya Cuma diberikan waktu 10 hari, jadi konsentrasi agak buyar. Saya sudah coba, untuk apply beberapa apartemen, tapi ditolak karena tidak punya credit history dan belum punya social security. Untuk pengalaman saja, buat teman-teman yang mau kuliah di LA, harus sudah mendapatkan tempat tinggal sebelum sampai di sini. Mencari tempat tinggal di sini, tidak semudah seperti mencari tempat kos di Jakarta.

Akhirnya setelah tekun mencari dari website, saya akhirnya berhasil menemukan tempat tinggal apartement dekat UCLA. Akan tetapi biaya sewa di sini sangat mahal, karena dekat daerah westwood, akhirnya saya mesti sharing berempat; 2 mahasiswa PhD dari India, dan satu orang China. Kita juga dapat 2 bedroom, dan 1 bathroom. Konsekuensinya kalau malam saya harus tidur lebih pagian, sebelum teman roommate saya, mahasiswa China itu tidur, karena kalau tidak saya akan terganggu karena mendengar suara ngorok. Begitu juga saya bisa mendengar suara ngorok dari ruang sebelah orang India tersebut juga ngorok, padahal mereka masih muda, mungkin ngorok sudah menjadi penyakit epidemik…..Keuntungannya, kalau ke kampus dekat sekali, tinggal jalan kaki 5 menit. Apartment yang kami tempati masih kosong, belum ada furniture, lampu di kamar juga cuma lampu meja, jadi kalau malam hari, saya dan mahasiswa China ini balik ke kampus UCLA untuk belajar di perpustakaan atau di cafeteria, kadang sampai jam 11 atau jam 12.

Untuk menghemat, setiap hari saya masak. Setelah 2 bulan ini masak, saya sudah kehabisan jurus-jurus memasak, dari nasi goreng, goreng telur kocok, cah sayur, buat sup ayam, barbeque, rasanya bosan juga. Di sinilah saya jadi sadar, bahwa tidak gampang kalau menjadi ibu, harus memasak untuk keluarga setiap hari, ke suami, ke anak-anaknya yang mungkin punya selera yang berbeda beda. Saya saja yang memasak untuk sendiri sudah agak bosan. Dulu saya pikir masak itu gampang, tapi ternyata susah juga. Awalnya masakan saya dari yang keasinan, kemanisan, kepedasan, sampai yang terlalu tawar. Tapi untungnya tidak ada yang complain, karena saya yang konsumsi sendiri. Saya jadi lebih menghargai ibu-ibu atau istri yang setiap hari memasak untuk keluarganya. Saya saja yang memasak untuk makanan sendiri sudah bosan, apalagi ibu-ibu yang setiap hari harus memasak dengan menu yang bervariasi agar keluarganya tidak bosan. Mereka pasti punya jurus memasak yang banyak, sehingga gak bosan….

 


fogartyUjian Mid yang pertama membuat saya stress karena saya merasa tidak bisa. Dan hasilnya memang, di mata kuliah Epid, nilai saya tidak bagus. Persaingan di UCLA sangat tinggi, mereka sangat aktif dalam bertanya dan belajar. Setelah mendapatkan nilai yang di bawah rata-rata saya mengubah cara belajar. Sebelum kuliah dan setelah kuliah, saya meriew kembali bahan kuliah. Dari Senin sampai Jumat, kuliah Cuma sebentar, sekitar 2-3 jam sehari. Akan tetapi kalau gak baca textbook dan diskusi dengan teman-teman, rasanya sulit untuk mengikuti kuliah dari dosen. Jadi, untuk mengejar ketinggalan di kelas. Akhirnya saya membentuk kelompok diskusi dengan teman-teman dari China dan  Thailand. Cara ini sangat efektif untuk belajar.

Sistem kuliah per-quarter (per 3 bulan) membuat kuliah terasa sangat cepat. Ini sangat berbeda dengan kuliah yang biasanya per-semester. Kuliah per-quarter, hamper tiap bulan selalu ada ujian. Jadi, mau gak mau, belajar harus di perbanyak, untuk bisa ngikutin kuliah. Kegiatan saya setiap hari hanya habis untuk belajar. Kalau malam, setelah dinner di apartement, saya kembali ke perpustakaan, dan belajar sampai jam 11 atau sampai jam 12, setelah itu pulang dan tidur. Bahkan sabtu Minggu juga harus dipakai untuk belajar dan mengerjakan tugas.

Saya pada awalnya agak lambat untuk bisa mengikuti kuliah, tapi setelah 2 bulan ini, saya sudah terbiasa dengan pola belajar di UCLA. Rasanya saya belum menemukan ada mahasiswa UCLA yang malas, semuanya sangat aktif belajar. Jadi kalau kita yang malas, akan merasa aneh sendiri. Perpustakaan, penuh dengan mahasiswa yang belajar, apalagi saat musim Midterm dan Final. Awalnya saya merasa sangat stress, sudah belajar rajin, kok untuk ngerti kuliahnya lambat. Rasanya mau pulang ke Jakarta, dan stop untuk kuliah di UCLA. Untung saya punya teman untuk diskusi kelompok. Dari sana kita banyak tukar pikiran, dan kita saling memperlengkapi. Waktu ujian kita diperbolehkan open book, tapi kalau gak ngerti konsepnya akan susah menjawabnya. Belajar Epid di UCLA seperti membaca bible, mesti direnungkan untuk dapat pengertian dan pewahyuan yang baru. Baca sekali textbook gak cukup, tapi perlu berkali-kali untuk mengerti konsepnya. Kita sempat membuat jokes kalau membaca buku epid, palagi yang judulnya modern epidemiology, sudah hampir seperti bertapa/meditasi di gunung, untuk mendapatkan wangsit/pemahaman. Bisa dikatakan bahwa belajar di UCLA sangat tergantung oleh self learning, kuliah di kelas hanya sedikit memberikan pemahaman, ditambah lagi ada Professor yang mengajar agak sulit dimengerti. Seharusnya kesulitan yang kita hadapi di kelas, akan dibantu oleh teaching assistant (TA). Akan tetapi rasanya perlu berdoa, untuk mendapatkan TA yang bagus. Kadang, ada TA yang sangat membantu, memudahkan kita mengerti kuliah di kelas, tapi ada juga TA yang kurang bisa mengajar.

 

Ada salah satu teman dari UCLA yang bercerita bahwa penilaian A, A+, ataupun B, tergantung dosen. Ada yang memakai standart patokan nilai, ada juga yang berdasarkan kuota nilai di kelas. Teman saya pernah mendapat nilai 98, tetapi Ia dimasukkan dalam kategori A-, karena rata2 kebanyakan mahasiswa mendapat nilai 100. Jadi kategori penilaian berdasarkan rata-rata nilai mahasiswa. Nilai A+ untuk 100. Hal seperti inilah yang membuat mahasiswa sangat kompetitif, berjuang untuk menjadi yang terbaik.

Akhirnya setelah belajar tiap hari, akhirnya Rabu yang lalu, ujian Final terakhir. Malam harinya saya belajar sampai jam 3 pagi, tapi rasanya waktu gak cukup, saya akhirnya pulang dan tidur, kerena besokkannya harus ujian jam 8 pagi. Paginya saya agak sulit bangun, karena tidur Cuma 3 jam. Untung ada starbuck, saya harus minum starcbuck yang double-shoot, yang cafeinnya 2 kali lipat dari kopi biasanya. Kopi di LA, sangat membantu untuk terus terjaga. Akan tetapi efek sampingnya, membuat kita terus terjaga bahkan sampai malam, masih belum mengantuk. Sekarang untuk term winter, saya menyibukkan diri untuk nyicil belajar setiap minggu. Karena kalau baru belajar 1 atau 2 minggu sebelum Final, tidak akan sempat. Belajar di UCLA harus super rajin. Kuliah banyak menuntut pemahaman yang sangat detail.

 

Sekarang ini kuliah di UCLA sudah libur selama 3 minggu, kuliah pertama kali akan dimulai tanggal 7 januari. Ini saatnya untuk jalan-jalan dan melepaskan ketegangan syaraf. Liburan ini juga saya manfaatkan untuk ke Gym, olah raga. Orang Bule di sini sangat rajin ke Gym.

Dalam kuliah, dosen selalu open for all of question. That is no stupid question. Mahasiswa juga boleh berdebat dengan Profesor. Kuliah di UCLA sangat kondusif untuk belajar mandiri. Semua fasilitasnya benar-benar mendukung. Ada perpustakaan 24 jam yang bisa kita pakai, bisa pinjam laptop gratis, dan kalau belajar di library, harus benar-benar tenang, dan kalau mau bicara, harus berbisik-bisik. Lingkungan kampus di UCLA juga sangat indah. Kita jadi tertantang untuk menjadi aktif dalam segala sesuatu. Kalau malu bertanya, akan benar-benar ketinggalan kuliah. Internet connection di sini juga high-speed, di sini kita bisa nonton online dari You-tube. Ada banyak film Indo yang bagus. Kalau di Jakarta, nonton You-tube biasanya sering putus-putus, tapi di sini lancar. Demikian share dari saya, untuk kuliah di term selanjutnya akan jadi tantangan baru lagi.

 

 

 

The AIDS International Training and Research Program (AITRP) began in 1988 as one of the first of a new generation of research training programs sponsored by the Fogarty International Center (FIC) at the National Institutes of Health (NIH). These programs provide training for scientists from institutions in low- and middle-income countries to strengthen HIV-related research and public health capacities at their institutions.